Beranda Seni dan Budaya Mari Memahami Kerajinan Tangan Kain Tenun

Mari Memahami Kerajinan Tangan Kain Tenun

BERBAGI
Gambar Kupu-kupu Blue Morpho
Blue Morpho via costaricajourneys.com

Kerajinan Tangan di Indonesia, salah satu yang terkenal hingga mancanegara yaitu kerajinan Kain Tenun.

Oh iya, baca juga ya Berbagai Kerajinan Tangan Indonesia di Mata Dunia

Kain yang dibuat dengan benang lungsin ini ternyata sudah ada sejak zaman dahulu kala. Yang menarik dari kerajinan menenun ini adalah proses yang lumayan panjang dengan alat tenun yang sangat khas. Alat ini merupakan alat tradisional yang menggunakan tangan manusia sebagai penggerak utama.

Sebenarnya, alat tenun sudah digunakan sejak 400 SM oleh orang-orang Mesir dan Cina, sehingga bisa dikatakan kalau menenun merupakan tradisi yang sudah cukup lama keberadaannya.

Mari kita bahas mengenai sejarah kerajinan dari kain tenun

Pada tahun 2500 SM, penguasa Mesir kala itu memerintahkan rakyatnya untuk membuat busana yang bentuknya menyerupai sarang laba-laba. Busana tersebut adalah hasil kerajinan tenunan.

Busananya dibuat dengan motif seperti sarang laba-laba dan hanya diperuntukkan bagi para bangsawan. Kemudian, kerajinan tangan ini menyebar luas hingga negara Eropa, di sana kain tenun lebih dikenal dengan nama Ikkaten atau Tenun Ikat.

Setelah itu tradisi kerajinan tangan ini masuk ke Indonesia melalui perantara para pedagang Cina dan Arab. Kemudian berkembang pesat dengan menggunakan bahan sutera dan benang emas.

Daerah di Sumatera bahkan terkenal dengan hasil kerajinan tenun yang menggunakan benang emas dan perak sejak abad ke-15. Sementara di Palembang, saat itu sudah ada peternakan murbei dan ulat sutera.

Namun, nggak hanya di wilayah Sumatera aja, di pulau Jawa juga ditemukan sebuah prasasti yang juga memberi gambaran adanya kerajinan tangan tenun di pulau ini.

Melalui prasasti Karang Tengah berangka tahun 847 (kol. Mus Nas No D 27) terdapat tulisan “putih hlai 1 (satu) kalambi”, artinya kain putih satu helai dan baju, serta prasasti “Baru” di tahun 1034 M disebut kata Pawdikan, artinya pembatik atau penenun. Ditemukan juga pada prasasti “Cane” tahun 1021 M dan prasasti dari Singosari tahun 929 M (kol. Mus Nas No 88) terdapat istilah “makapas” atau pedagang kapas.

Proses Kain Tenun

Sebelum mengetahui proses menenun, perlu dipahami terlebih dahulu pengertian dari Tenun itu sendiri.

Tenun merupakan hasil kerajinan tangan manusia di atas kain yang terbuat dari benang, serat kayu, kapas, sutera dll, dengan cara memasukkan benang pakan secara melintang pada benang yang membujur atau lungsi.

Secara garis besar, kain tenun yang diciptakan dalam berbagai macam warna, corak dan ragam hias, memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan sistem pengetahuan, budaya, kepercayaan, lingkungan, alam, dan sistem organisasi sosial masyarakat.

Langkah awal proses menenun dilakukan dengan pemilihan bahan dasar. Bahan dasar ini digunakan untuk pembuatan benang yang nantinya akan ditenun hingga menjadi kain.

Benang untuk kain tenun, diambil dari kapas. Kapas tersebut akan dipintal dengan alat tradisional khusus, dengan begitu hasil yang tidak rata pada proses pintalannya akan membuat motif yang berbeda dari satu kain dengan kain lainnya.

Setelah proses memintal, dilanjutkan dengan pencelupan benang pada pewarna. Pada umumnya bahan pewarna diambil dari daun Ru Dao dan akar pohon Ka’bo. Dan pewarna lainnya yang diambil dari alam.

Teknik Tenun

Di Jawa, Bali dan Sumatera, alat tenun yang digunakan sebenarnya sama, yaitu Alat Tenun Bukan Mesin. Namun, alat ini memiliki nama yang berbeda, ada yang menyebutnya cacak, amben, gedugan, serta ada juga alat tambahan yaitu alat tenun tijak.

 

Tenun datar merupakan proses persilangan benang lungsi dan benang pakan berdasarkan pola anyam datar dengan menggunakan alat tenun.

Lungsi adalah benang yang panjangnya sejajar vertikal dengan panjang kain pada saat menenun.

Benang pakan adalah benang yang lebarnya sejajar horizontal dengan lebar kain.

Pola anyam datar ini ini terjadi secara sama dan merata. Karena itu hasil tenunan datar menampilkan permukaan yang rata dan datar karena meratanya persilangan kedua arah benang tersebut.

Teknik tenun datar yang biasa digunakan untuk menenun adalah teknik tenun ikat. Corak kain dibuat dengan cara mengikat bagian-bagian tertentu dari benang hingga warna tidak menyerap pada bagian-bagian tertentu pada saat pencelupan berlangsung. Bagian yang tidak terwarnai ini akan membentuk corak pada kain ketika kain ditenun.

 

Ada beberapa jenis tenun ikat yang perlu diketahui, yaitu :

  1. TENUN IKAT LUNGSI

Tenun ikat lungsi adalah kain yang coraknya dibuat pada benang lungsi.urutan pembuatan kain tenun ikat lungsi adalah:

  • Membentang benang lungsi pada alat perentang.kemudian benang diberi tanda pada bagian-bagian yang akan diikat sesuai dengan corak.
  • Mengikat benang lungsi yang sudah ditandai.
  • Mencelup dalam larutan warna benang yang sduah dilepas dari bentangan.
  • Melepaskan ikatan setelah benang kering.
  • Benang yang sudah bercorak digulung dengan alat penggulung lungsi (BUM) lalu dipasang pada alat tenun.setelah terpasang corak hasil ikatan akan terlihat jelas .
  • Menenun dengan benang pakan warna polos.
  1. TENUN IKAT PAKAN

Benang yang diikat adalah benang pakan yang searah dengan lebar kain. setelah benang diikat, dicelup dan dikeringkan benang kemudian digulung pada kumparan atau sekoci yang akan menjalinkannya dengan ada benang lungsi.

  • Membentang benang pakan pada alat perentang, kemudian kumpulan benang pakan itu ditandai menurut corak.
  • Mengikat kumpulan benang pakan yang sudah ditandai.
  • Melepas kumpulan benang dari bentangan dan mencelupnya dalam larutan warna.
  • Mengeringkan ikatan benang yang sudah dicelup.
  • Melepas ikatan.
  • Menggulung benang yang sudah bercorak pada kumparan.
  • Menenun benang lungsi warna polos.
  1. TENUN IKAT GANDA

Teknik ikat ini mengikat corak kain pada kumpulan benang lungsi dan benang pakan sekaligus. Corak terbentuk pada persilangan antara benang lungsi dan benang pakan tepat pada titik pertemuannya. Setiap benang bercorak harus bersilang pada titik yang tepat agar corak dapat muncul.

  1. TENUN IKAT KHUSUS

Yang dimaksud dengan tenun ikat khusus yakni adanya pakan tambah (songket) dan lungsi tambah. Jadi tenun songket merupakan teknik menenun dengan menambahkan bahan lain ke dalam struktur kain. Bahan tambahan yang digunakan yaitu benang emas. Kain-kain dengan teknik ini yaitu tenun songket Sumatra Barat, Jambi, Palembang dan Riau.

 

Jenis Hasil Kain Tenun

 

Berdasarkan proses tenunannya, dari jenis tenunan tersebut menghasilkan hasil tenunan yang berbeda. Seperti :

  1. Kain Songket : yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan, hiasan dibuat dengan menyisipkan benang perak, emas atau benang warna di atas benang lungsi, kadang-kadang dihiasi dengan manik-manik, kerang atau uang logam. Desain pola motif songket ini timbul pada permukaan kain. Ada yang menghias dan menutup seluruh permukaan kain, ada yang menghias bagian tertentu dimana motif yang dibentuk menyebar di berbagai bagian dari kain. Ada kombinasi, ada yang menyebar pada satu permukaan kain. Benang yang disongket tersebut disisipkan dengan benang tambahan di atas maupun di bawah benang lungsi dan benang pakan. Istilah kata songket kalau di Palembang berarti Songko yaitu orang yang pertama menggunakan benang emas itu untuk hiasan ikat kepala. Ikat kepala itu bernama songko. Kemudian benang emas dipakai sebagai hiasan pada kain tenun lainnya yaitu kain sarung dan baju kurung.

 

Istilah songket berasal dari Malaysia . Dalam Bahasa Indonesia sungkit  berarti “hook”. Ini ada hubungannya dengan metode pembuatan songket, untuk hook dan memilih kelompok benang, dan kemudian slip benang emas di dalamnya. Berarti menyongket yaitu ‘untuk menyulam dengan emas atau perak’ . Benang Songket merupakan produk mewah tradisional dipakai selama acara-acara seremonial sebagai sarung , kain bahu atau ikatan kepala. Tanjak atau hiasan kepala Songket yang dikenakan di pengadilan dari kesultanan Malaysia . Secara tradisional perempuan muslim dan remaja perempuan menenun songket; “beberapa anak laki-laki dan laki-laki juga menenun  “. Songket sebagai  gaun raja juga disebutkan oleh Abdullah bin Abdul Kadir tulisan 1849. -pola tradisional tekstil Sumatera mewujudkan suatu sistem lambang diinterpretasi.

 

Selain itu, kain songket sendiri memiliki jenis yang berbeda juga, seperti : Kain tenun Siak, Indragiri, Bengkalis, Songket Silungkang, Songket Palembang, Songket Pande sikek, dan Tenun Tapis Lampung.

  1. Kain lurik adalah cara membuat kain tenun dengan hiasan atau lajur garis membujur. Pada masyarakat Jawa terutama di daerah Probolinggo selendang lurik “Tulak watu” dipergunakan untuk upacara tujuh bulanan (Jawa: tingkeban/mitoni) serta untuk meruwat (ngruwat). Upacara tingkeban merupakan selamatan dilakukan oleh seorang wanita yang pertama kali hamil tujuh bulan, dengan dimandikan oleh seorang dukun. Dalam upacara wanita hamil tersebut sambil mengatakan: “Kalau laki-laki mudah-mudahan seperti Kumajaya dan kalau wanita hendaknya seperti Dewi Ratih.” Kain lurik bermotif tertentu mempunyai kekuatan magis yang dapat menghilangkan roh jahat, menyembuhkan penyakit, menghindarkan seseorang dari nasib jelek dan sebagainya.
  1. Kain jumputan atau kain pelangi merupakan kain dengan teknik hias dengan cara mengikat kain pada waktu akan dicelup ke dalam celupan warna, kemudian setelah selesai dibuka pada bagian-bagian yang diikat membentuk lingkaran-lingkaran atau bunga-bunga. Di daerah Solo dan Jogja kain jumputan dipakai untuk selendang, kemben, ikat kepala dan ikat pinggang.

 

Filosofi Kain Tenun

 Pada umumnya, motif kain tenun merupakan gambaran tentang alam sekitar seperti binatang, manusia atau tumbuhan. Untuk memahami masing-masing motif ragam hias dari kain ini, bukanlah perkara mudah. Namun, justru karena keabstrakan dari motif tersebut menambah daya tarik tersendiri pada kain tenun.

Tapi, di balik motif yang ada pada kain tenun, terdapat nilai filosofis yang mendalam. Yang menandakan bukan hanya sekadar motif yang tidak berarti atau asal aja.

Berikut beberapa hal filosofis dari motif kain tenun.

 

Motif Jarang Atabilang : melambangkan kuda sebagai kendaraan arwah menuju alam baka menjadi penanda bahwa manusia dewasa dan yang masih di bawah umur tidak akan pernah terlepas dari kematian.

 

Motif Jara Nggaja : Motif kain tenun ini berupa hewan gajah dan kuda yang posisinya selang-seling. Gajah, merepresentasikan kendaraan dewa yang bersiap memberikan pengadilan. Sedangkan kuda, melambangkan kendaraan menuju ke alam baka.

 

Motif Jara : merupakan simbol bahwa manusia mengalami gelombang kehidupan.

 

Motif Bintang Kejora : Motif Bintang Kejora berbentuk bintang berganda tiga yang melambangkan unit keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak. Sekaligus kain dengan motif ini sering digunakan sebagai media penolak malapetaka.

 

Motif Kelimara : memiliki motif berupa gunung yang menjulang tinggi. Gunung diyakini bisa memberi kehidupan kepada umat manusia atas cinta kasih Yang Maha Penyayang.

 

Motif Lawo Butu : motif berupa perahu (sampan), kuda, gurita dan manusia serta ragam hias yang kompleks. Biasanya kain tenun dengan motif Lawo Butu dikenakan dalam upacara adat dan ritual meminta hujan.

 

Motif Kaliuda : merupakan kombinasi antara kuda dan ayam. Motif kuda melambangkan kebanggaan, kekuatan dan keberanian.  Sedangkan figur ayam pada motif kain tenun, melambangkan kehidupan wanita ketika berumah tangga.

 

Motif Andungu  : merupakan lambang pohon lontar di halaman rumah raja-raja, pohon di mana mereka menggantung tengkorak musuh atau penjahat.

 

Motif Kurangu : biasanya dikenakan oleh para raja dan bangsawan ini, mengandung makna simbolik, bahwa hidup itu akan terus berlangsung karena di balik kematian tetap ada kehidupan.

 

Motif Mamuli : motif mamuli ini melambangkan kesuburan yang dimaksudkan untuk menghormati perempuan.

 

Motif Keker : melambangkan kebahagiaan dan kedamaian dalam memadu kasih di bawah pohon. Biasanya, motif kain tenun ini digunakan untuk pergi ke pesta.

 

Motif Tokek : diyakini akan memberi keberuntungan bagi pemakainya.

 

Motif Bunga Samobo : melambangkan bahwa manusia adalah mahluk social yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain, selain bagi dirinya sendiri.

 

Motif Nggusu Tolu atau Pado Tolu : mengandung makna bahwa kekuasaan tertinggi di tangan Allah.

 

Motif Satako : simbol kehidupan keluarga yang mampu mewujudkan kebahagiaan bagi anggota keluarga dan masyarakat, layaknya setangkai bunga yang selalu menebar keharuman bagi lingkungannya.

 

Motif Aruna : melambangkan 99 asma Allah yang wajib diteladani dan dijadikan pedoman oleh manusia untuk mewujudkan kehidupan yang bahagia baik di dunia maupun di akhirat kelak.

 

Motif Kakando : mengandung makna kesabaran dan keuletan dalam menghadapi tantangan laksana rebung yang mampu tumbuh di tengah-tengah rumpun induknya yang lebat.

 

Motif garis yang menghiasi kain tenun Bima menegaskan bahwa manusia harus memiliki sifat jujur dan tegas. Sikap yang lazim dimiliki oleh masyarakat Maritim.

 

Motif Geometris : Nggusu Tolu (segitiga) mengandung makna bahwa Tuhan merupakan pemegang kekuasaan tertinggi. Nggusu Upa (segi empat) menjadi simbol kebersamaan antara keluarga dan tetangga. Pado Waji memberikan gambaran bahwa selain mangakui kekuasaan Allah manusia juga harus mengakui kekuasaan pemimpin. Nggusu Waru (segi delapan) menjadi pedoman dalam pemilihan seorang pemimpin.

 

Motif Pucuk rabuang : memiliki makna bahwa hidup seseorang harus berguna sepanjang waktu. Motif ini bercerita bahwa hidup harus mencontoh falsafah bambu, dimana bambu selalu berguna sejak muda (rebung) untuk dimakan, dan saat tua (bambu) sebagai lantai rumah atau bahan bangunan. Motif rebung ini juga mengibaratkan bahwa tanaman ini berguna sepanjang hidupnya dan semua bagiannya memiliki banyak kegunaan.

 

Motif Itiak pulang patang : memiliki makna bahwa hidup dalam masyarakat haruslah seiya sekata, seiring sejalan dan mematuhi peraturan yang berlaku.

 

Motif Kaluak paku : memiliki makna bahwa kita sebagai manusia haruslah mawas diri sejak kecil, dan perlu belajar sejak dini mulai dari keluarga. Pendidikan dalam keluarga menjadi bekal utama untuk menjalankan kehidupan di masyarakat. Setelah dewasa kita harus bergaul ke tengah masyarakat, sehingga bekal hidup dari keluarga bisa menjadikan diri lebih kuat dan tidak mudah terpengaruh hal negatif.

 

Motif Sajamba makan : digunakan sebagai lambang kebersamaan dalam menikmati keberhasilan.

 

Motif Tirai : merupakan hiasan dari kain yang diletakkan pada dinding, pintu, dan lainnya, yang berfungsi untuk menambah keindahan dan suasana yang semarak.

 

Motif Saluak laka :  memiliki memiliki arti lambang kekerabatan. Hal ini akan memberi makna dalam kehidupan masyarakat, bahwa kekuatan akan terjalin dari kesatuan yang saling terikat sehingga akan terwujud kekuatan bersama dalam menghadapi bermacam masalah.

 

Motif Unggan seribu bukit : merupakan perpaduan teknik bertenun dari pandai sikek dengan silungkang. Motif ini memiliki arti kekompakan dalam kerjasama, kegigihan dalam berusaha, dan sifat ingin maju seseorang.

 

Cara Merawat Kain Tenun

 

Agar warna, motif, dan bentuknya tetap indah, cara perawatannya tidak bisa sembarangan. Ada cara tertentu yang harus dilakukan untuk merawat kain tenun ini. Merawat kain tenun harus disesuaikan dengan jenis kainnya. Jka kain tenunnya terbuat dari sutera, maka sebaiknya dicuci dengan di-dry clean. Sedangkan jika terbuat dari bahan lain seperti katun, kain ini bisa dicuci sendiri dengan menggunakan tangan. Namun, jangan menggunakan deterjen, karena bisa merusak warna asli kainnya dan luntur. Untuk mencuci kain tenun sebaiknya gunakan lerak yang biasa digunakan untuk mencuci batik.

Penggunaan lerak untuk mencuci kain ini bisa membuat warna kain tenun ini menjadi lebih bersinar dan tak luntur. Ketika mencuci kain tenun, sebaiknya jangan direndam karena justru bisa membuat kain rusak. Pada dasarnya ketika menggunakan baju dari kain tenun pasti tidak akan terlalu kotor, jadi tidak perlu direndam.

Berikut ini cara untuk merawat kain tenun kita. Sangat mudah untuk dilakukan, dan tidak mengeluarkan biaya mahal:

  1. Sebelum menggunakan kain tenun sebagai bahan pembuat pakaian, sebaiknya dicuci terlebih dahulu. Karena semua jenis tenun akan menyusut setelah dicuci.
  2. Gunakan sampo atau lerak untuk mencuci kain tenun. Hindari penggunaan deterjen, sebab dapat merusak warna.
  3. Saat mencuci kain tenun, sebaiknya jangan direndam.
  4. Cuci kain tenun menggunakan tangan, sebab kain tenun tidak terlalu kotor setelah digunakan.
  5. Jangan menggunakan sikat pakaian karena dapat merusak kain.
  6. Penjemuran dilakukan dengan diangin-anginkan di ruang terbuka. Hindari terkena sinar matahari langsung.
  7. Setrika kain tenun dengan suhu yang tidak terlalu panas.

 

 

 Padu padan Kain tenun untuk wanita

 

Model busana muslim untuk pergi ke pesta sudah menjadi tren belakangan ini. Hampir semua tamu yang datang ke pesta pernikahan selalu mengenakan busana pesta andalan. Sebagai alternatif, penggunaan kombinasi kain tenun bisa menambah kesan sederhana tapi tetap elegan. Berikut ini beberapa ide yang bisa diaplikasikan untuk memanfaatkan kain tenun untuk dipakai.

  1. Gaun pesta kombinasi kain tenun

 

Kain tenun motif jumputan, tie dye serta tenun ikat memiliki kesan yang istimewa. Dengan bahan yang halus dan jatuh cocok dipadu padankan dengan satin atau sutera.

  1. Busana pesta sarimbit

 

Ingin tampak serasi dengan keluarga? Model busana ini sedang tren sehingga bisa dikombinasikan dengan kain tenun atau kain lurik.

  1. Gaun kebaya

 

Kebaya juga merupakan ciri khas yang mencerminkan Indonesia. Kombinasi antara Kebaya dengan kain Tenun merupakan hal yang sangat sempurna. Padu padan ini juga bisa dikombinasikan dengan bahan satin.

Sampai saat ini kain tenun tradisional terus digali dan dikembangkan, misalnya dengan cara membuat tenun adat untuk keperluan upacara adat atau upacara resmi. Lebih membahagiakan lagi bahwa perancang mode saat ini banyak menggunakan kain-kain tradisional untuk peragaan busana mereka, baik di dalam maupun di luar negeri.

 

Foto utama wartaplus.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.